Joki Strava vs. Silent Walking: Ketika Olahraga Bukan Lagi Tentang Sehat, Tapi Tentang 'Tontonan'
Uncategorized

Joki Strava vs. Silent Walking: Ketika Olahraga Bukan Lagi Tentang Sehat, Tapi Tentang ‘Tontonan’

Dua Sisi Mata Uang yang Sama

Coba lo bayangin: di satu sisi ada orang yang rela bayar ratusan ribu cuma biar orang lain lari atas nama mereka. Di sisi lain, ada orang yang melepas semua gadget dan berjalan dalam keheningan total, nggak peduli dengan dunia luar.

Kelihatannya beda banget kan?

Tapi sebenernya, joki Strava dan silent walking adalah dua respons atas tekanan yang sama. Iya, tekanan untuk “tampil” di era digital yang membuat olahraga nggak lagi tentang kesehatan, tapi tentang tontonan . Keduanya lahir dari generasi yang sama, di zaman yang sama, dengan masalah yang sama. Cuma cara ngatasinnya aja yang beda.

Yang satu lari dari tekanan dengan cara “menang” di permainan digital. Yang lain lari dari tekanan dengan cara kabur dari permainan itu sama sekali.

Pertanyaannya: lo ada di tim mana? Atau jangan-jangan lo pernah ngerasain dua-duanya?


Joki Strava: Ketika Lari Dibeli Demi Validasi

Apa sih joki Strava itu?

Gampangnya, joki Strava adalah orang yang lo bayar buat lari atas nama lo . Mereka yang pake jasa ini biasanya pengen data aktivitas yang impresif—jarak jauh, pace kenceng, rute keren—tanpa harus berkeringat sendiri .

Fenomena ini mulai viral di Indonesia pada pertengahan 2024 . Bahkan, ada remaja 17 tahun yang buka jasa dengan tarif Rp10.000 per kilometer untuk pace 4:00 menit/km . Bayangin, lo bisa dapet catatan lari 10K dengan pace kenceng cuma dengan modal Rp100.000. Murah kan? Tapi murahnya itu juga yang jadi masalah .

Kenapa orang rela bayar?

Pengamat sosial UI, Rissalwan Habdy Lubis, bilang ini soal FOMO (Fear of Missing Out) dan validasi sosial . “Joki Strava ini kaitannya dengan FOMO. Jadi anak-anak muda ini sebetulnya pengin ikut-ikutan gaya hidup sehat,” ujarnya .

Nih beberapa faktor yang bikin orang pakai jasa joki Strava:

  • Haus validasi: Butuh pengakuan dari orang lain bahwa mereka menjalani gaya hidup sehat 
  • FOMO: Takut ketinggalan tren lari yang lagi booming 
  • Demi konten: Banyak yang ngondisikan diri buat konten di medsos, termasuk pake joki 
  • Personal branding: Pengen terlihat disiplin dan berprestasi 

Kisah Nyata: Jason si Joki Strava

Jason, remaja 16 tahun asal Jakarta Barat, udah beberapa bulan jadi joki Strava . Setiap Minggu pagi, dia bawa HP atau smartwatch pelanggan dan lari di Car Free Day Bundaran HI . Tarifnya? Tergantung pace yang diminta. Kalau pace 4 menit per kilometer, dia bisa dapet Rp300.000 untuk 5 kilometer .

“Semakin tinggi pace-nya semakin mahal,” jelas Jason . Uang hasil joki dia pake buat jajan dan kebutuhan sehari-hari .

Yang menarik, Jason ini sebenernya pelari yang sehat secara fisik . Dia ngeliat peluang dari tingginya permintaan orang yang butuh “representasi sosial” . Ironis kan? Orang sehat lari buat orang yang nggak mau lari, biar orang itu keliatan sehat di media sosial.

Dampaknya: Hidup dalam Kepalsuan

Dr. Tutut Chusniyah, Psikolog dari Universitas Negeri Malang, ngingetin bahaya joki Strava: ini namanya “membentuk identitas diri dengan cara manipulatif” . “Mereka hanya mendapatkan kebahagiaan semu. Ini berpengaruh pada perkembangan pribadi,” jelasnya .

Yang lebih parah, perilaku ini bisa terbawa ke dunia nyata. “Perilaku deviance saat ini sudah dibawa ke dunia nyata. Dia ingin membentuk identitas dirinya dengan cara manipulatif,” tambahnya .


Silent Walking: Kabur dari Dunia Digital

Apa itu silent walking?

Nah, ini kebalikan banget sama joki Strava.

Silent walking adalah aktivitas berjalan tanpa distraksi—nggak pake HP, nggak pake earphone, nggak ngobrol, bahkan nggak pake smartwatch . Tujuannya? Fokus penuh sama lingkungan sekitar, pernapasan, dan pikiran yang mengalir alami .

Tren ini mulai populer di TikTok, di mana para influencer ngaku ngerasain manfaat mental dan fisik dari silent walking . Mereka nyebutnya sebagai cara efektif buat “detoks digital” dan kembali terhubung dengan diri sendiri .

Kenapa Gen Z demen banget?

Menurut Dosen Pendidikan Sosiologi UNY, Grendi Hendrastomo, silent walking jadi tren karena kesadaran masyarakat untuk menyehatkan diri sendiri dengan cara ekonomis . “Ada banyak tekanan di dunia, entah pekerjaan dan kehidupan, yang memaksa orang cari cara untuk menghargai dirinya. Salah satunya mencoba berjalan dengan silent walking,” ujarnya .

Ini soal kebutuhan untuk refleksi diri dan “menyendiri” dari hiruk pikuk digital . Apalagi buat Gen Z yang tumbuh dengan gadget dari kecil, keheningan jadi kemewahan tersendiri .

Manfaatnya: Dari Fisik sampai Mental

  • Mengurangi stres: Berjalan tanpa gangguan bikin pikiran lebih tenang 
  • Meningkatkan kesadaran: Jadi lebih peka sama suara alam dan langkah sendiri 
  • Kesehatan mental: Memperbaiki fokus dan menurunkan kecemasan 
  • Detoks digital: Istirahat dari paparan layar yang berlebihan 

Cara Mulai Silent Walking (Gampang Banget!)

  1. Pilih lokasi tenang: Taman, hutan kota, atau jalan kecil yang sepi 
  2. Simpan semua gadget: HP di saku, earphone dilepas 
  3. Fokus sama pernapasan: Rasakan udara masuk dan keluar 
  4. Nikmati suara alam: Biarkan pikiran mengalir tanpa dievaluasi 

Kontras yang Saling Menjelaskan

Dua tren ini kelihatannya bertolak belakang, tapi sebenernya muncul dari masalah yang sama: tekanan sosial di era digital.

Persamaan yang Nggak Kelihatan

1. Sama-sama Respons atas Tekanan Digital

Pengamat sosial Rissalwan bilang, “80 persen aktivitas media sosial adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan kejadian di lapangan” . Orang suka mengondisikan diri demi konten .

Joki Strava adalah respons dengan cara “memenangkan” permainan digital—lo kelihatan aktif di Strava meskipun nggak beneran lari. Silent walking adalah respons dengan cara “keluar” dari permainan itu sama sekali—lo nggak peduli sama eksistensi digital, lo cuma fokus sama diri sendiri.

2. Sama-sama Didorong oleh FOMO

FOMO bikin orang pengen ikut tren lari, tapi nggak semua orang punya waktu atau energi buat beneran lari . Makanya, ada yang milih jalan pintas pake joki . Ada juga yang milih silent walking—sebagai cara “melepas” diri dari tekanan FOMO itu sendiri .

3. Sama-sama Mencari Validasi—Tapi dengan Cara Berbeda

Pengguna joki Strava mencari validasi dari orang lain . Mereka pengen dilihat sebagai orang yang aktif dan sehat . Pelaku silent walking juga mencari validasi—tapi validasi dari diri sendiri, dari perasaan tenang dan damai yang mereka dapet .

Dosen UNY Grendi bilang, “Melalui silent walking, manusia memiliki waktu dan kesempatan untuk berolahraga sekaligus berefleksi diri, mencerna pengalaman hidup, menenangkan diri, dan stress release” .

Ironi yang Menggelitik

Yang bikin lucu, dua tren ini kadang dijalani oleh orang yang sama. Lo bisa aja hari Senin pake joki Strava buat keliatan keren di komunitas, terus hari Minggu jalan silent walking buat “detoks” dari stres yang justru diciptakan oleh tekanan buat keliatan keren di komunitas.

Ibaratnya, lo bikin masalah sendiri, terus lo cari solusi yang juga bikin masalah baru.


Data: Kita Emang Lagi Terjebak

  • Aktivitas Strava meningkat 35% di tahun 2023 secara global, dan Indonesia masuk lima besar peningkatan pengguna tertinggi di Asia Tenggara 
  • Setiap minggunya, ada lebih dari 7 juta aktivitas diunggah ke Strava 
  • Fenomena joki Strava muncul karena anak muda “haus akan validasi” dan “membentuk identitas dengan cara manipulatif” 

Di tengah semua ini, laporan WHO nyatain 31% orang dewasa di dunia bahkan nggak mencapai minimum aktivitas fisik yang disarankan . Lucu kan? Kita sibuk banget pamer olahraga, tapi banyak yang sebenernya nggak cukup gerak.


Tips Praktis: Olahraga untuk Diri Sendiri, Bukan untuk Tontonan

  1. Tanya motivasi lo: “Kenapa gue olahraga? Biar sehat? Atau biar keren di mata orang lain?” 
  2. Coba silent walking: Mulai dari 10-15 menit. Nggak usah pake target apa pun. Cuma jalan dan nikmati prosesnya .
  3. Hapus apps kalo perlu: Kalau Strava atau media sosial bikin lo stres dan kompetitif, hapus dulu. Coba olahraga tanpa rekaman sesekali .
  4. Bergabung dengan komunitas yang sehat: Cari komunitas lari yang fokusnya ke proses, bukan cuma ke hasil atau eksistensi digital .
  5. Rayakan progres pribadi: Bukan jarak atau pace, tapi gimana perasaan lo setelah olahraga. Apakah lebih segar? Lebih tenang? Itu yang penting.

Kesalahan Umum yang Sering Dilakuin

  • Olahraga cuma buat posting: Kalau nggak direkam, dianggap nggak terjadi 
  • Terlalu fokus sama angka: Pace, kalori, detak jantung, jadi KPI yang bikin stres 
  • Membandingkan diri terus: Lihat orang lain, langsung insecure 
  • Nggak pernah istirahat: Takut ketinggalan, jadi maksa badan padahal udah capek 

Penutup: Olahraga Itu Tentang Lo, Bukan Mereka

Fenomena joki Strava dan silent walking nunjukin satu hal: olahraga di era digital udah nggak sesimpel dulu. Bisa jadi ajang pamer, bisa jadi pelarian. Dua-duanya bisa lo pilih.

Tapi inget, olahraga yang sehat itu bukan soal berapa kilometer atau berapa like. Ini soal gimana perasaan lo setelah melakukannya.

Seperti yang dibilang sama salah satu pelari di komunitas Jakarta, “Olahraga yang bertahan adalah yang beneran sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan pribadi—bukan sekadar ikut hype” .

Jadi, mau lo pake Strava atau nggak, mau lo ikutan silent walking atau nggak, yang penting: olahraga buat diri lo sendiri. Bukan buat validasi orang lain. Bukan buat tontonan.

Yuk diskusi! Lo pernah nyoba joki Strava? Atau malah lagi demen silent walking? Atau mungkin lo punya cara lain buat tetap sehat tanpa tekanan sosial? Share di kolom komentar!

Anda mungkin juga suka...