Anak 12 Tahun Alami 'Tennis Elbow' Parah: Dokter Soroti Bahaya 'Screen Posture' yang Memperparah Cedera Olahraga
Uncategorized

Anak 12 Tahun Alami ‘Tennis Elbow’ Parah: Dokter Soroti Bahaya ‘Screen Posture’ yang Memperparah Cedera Olahraga

Kamu pernah denger tennis elbow? Itu cedera di siku, biasanya menyerang pemain tenis dewasa atau orang yang kerja berat. Tapi sekarang, kita mulai dengar cerita anak SD umur 12 tahun kena. Awalnya, orang tua dan pelatih bingung. “Lah, anak saya kan cuma main bulu tangkis 3 kali seminggu, kok bisa?” Ternyata, setelah dicek ke dokter olahraga, jawabannya ada di luar lapangan. Yaitu di depan screen. Postur tubuh mereka selama berjam-jam main game atau scroll TikTok — bahu membungkuk, siku ditekuk kaku, jari-jari tegang — itu nggak hilang begitu aja pas mereka pegang raket. Itu jadi beban awal. Lalu, di lapangan, otot yang udah lelah dan pendek itu dipaksa kerja keras lagi. Boom. Cedera olahraga yang seharusnya jarang di usia mereka, jadi biasa aja.

Ini bukan cuma soal main bola atau nge-game. Ini soal bagaimana tubuh anak-anak kita terjepit di antara dua dunia yang sama-sama memeras fisik mereka.

Badai Sempurna: Ketika Postur Buruk Bertemu dengan Latihan Intens

Pikirkan begini. Seharian anak sekolah online atau main game, otot punggung atas dan bahunya ketarik ke depan, fleksor siku dan pergelangan tangan dalam posisi statis yang tegang. Itu seperti menarik karet gelang terus-terusan sampai dia kendor. Begitu dia main tenis atau badminton, dia butuh otot yang luwes dan kuat untuk gerakan eksplosif. Tapi karet gelangnya udah kendor dan kaku. Hasilnya? Otot dan tendon di sekitar siku dan pergelangan tangan kewalahan. Mereka nggak siap menahan beban. Inilah badai sempurna yang dihadapi generasi Alpha.

  • Studi Kasus 1: Kevin, 12 Tahun, Pebulutangkis dengan ‘Gamer’s Posture’. Kevin latihan bulutangkis 4x seminggu. Tapi di rumah, dia bisa 3-4 jam main game mobile, pegang HP dengan posisi siku menekuk dan kepala menunduk. Dia mulai komplain nyeri di bagian luar siku kanannya, terutama saat backhand. Orang tuanya kira itu cuma pegal. Ternyata, diagnosa dokter olahragalateral epicondylitis alias tennis elbow. Penyebabnya? Kombinasi gerakan smash/backhand yang repetitif, ditambah dengan otot extensor di lengan bawah yang sudah ‘terbiasa’ dalam posisi pendek dan tegang karena memegang HP. Ototnya nggak punya range of motion yang sehat lagi. Data dari klinik fisioterapi anak di Jakarta menunjukkan kenaikan 40% kasus nyeri lengan & bahu pada anak aktif olahraga yang memiliki screen time >4 jam sehari.
  • Studi Kasus 2: Sari, 11 Tahun, Perenang dengan ‘Text Neck’. Renang seharusnya olahraga low-impact. Tapi Sari mengeluh nyeri bahu dan leher yang mengganggu gaya bebasnya. Ternyata, selain renang, dia hobi nonton series sambil tengkurap, menopang kepala dengan tangan dan melengkungkan punggungnya (screen posture yang buruk). Otot leher dan bahunya sudah dalam posisi tegang dan tidak seimbang sebelum dia bahkan masuk ke kolam. Saat berenang, tubuhnya mengompensasi ketidakseimbangan itu, bukannya bergerak efisien. Hasilnya? Cedera overuse pada rotator cuff.
  • Studi Kasus 3: Dito, 13 Tahun, Pemain Basket dengan ‘Mouse Shoulder’. Dito jago shooting tiga angka. Tapi akhir-akhir ini, shot-nya jadi nggak akurat dan bahunya nyeri. Setelah ditelusuri, selain latihan, dia juga rajin bikin video editing untuk konten TikTok-nya, yang mengharuskan dia duduk lama di depan laptop dengan mouse. Bahu kanannya terus-menerus dalam posisi internal rotation dan sedikit terangkat. Otot kecil di bahu yang seharusnya stabil saat dia shooting, sudah lelah dan ‘terkunci’ dalam posisi salah sebelum latihan dimulai. Ini badai sempurna untuk cedera bahu.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua? (Lindungi Anak dari Dua Sisi)

  1. Buat ‘Screen Hygiene’ Sejelas Olahraga. Atur aturan: setiap 30 menit screen time, wajib istirahat 5 menit untuk peregangan. Ajarkan peregangan sederhana: chin tucks (tarik dagu ke belakang), doorway stretch untuk dada, dan gerakan memutar pergelangan tangan. Ini bukan bonus, ini kebutuhan.
  2. Integrasikan ‘Prehab’ ke Dalam Rutinitas Olahraga. Sebelum latihan, jangan cuma lari keliling lapangan. Tambahkan mobilitas untuk bahu dan punggung atas: arm circlescat-cow pose, thread the needle stretch. Fokusnya bukan hanya pemanasan, tapi mengembalikan range of motion yang hilang akibat postur membungkuk.
  3. Perhatikan Set-Up Ruang Belajar/Bermain Digital. Pastikan kursi dan meja setinggi siku saat mengetik. Layar sejajar mata. Hindari penggunaan laptop/HP di kasur atau sofa dalam posisi tubuh melengkung. Investasi kecil di meja dan kursi ergonomis bisa mencegah kerusakan postur besar.
  4. Komunikasikan dengan Pelatih. Beri tahu pelatih olahraga anak bahwa anak memiliki screen time tinggi. Minta pelatih untuk lebih memperhatikan teknik dan warm-up yang menargetkan area rentan: bahu, siku, pergelangan tangan. Kolaborasi antara orang tua dan pelatih sangat penting.

Kesalahan yang Memperparah Badai Sempurna Ini

  • Menganggap Nyeri sebagai ‘Tumbuh Pains’ Biasa. “Ah, itu karena lagi tumbuh.” Nggak selalu. Nyeri yang spesifik dan berulang di sendi atau otot adalah sinyal. Dengarkan. Jangan abaikan keluhan anak. Postur screen dan olahraga intens adalah kombinasi baru, dan “tumbuh pains” lama nggak cukup untuk menjelaskannya.
  • Hanya Fokus pada ‘Skill’ Olahraga, Abaikan ‘Movement Foundation’. Latihan hanya pada teknik olahraga spesifik (contoh: shooting bola, servis tenis) tanpa membangun kekuatan dan mobilitas tubuh secara keseluruhan. Anak jadi seperti rumah dengan fondasi rapuh tapi atap yang mewah. Cepat atau lambat rubuh.
  • Mengganti Aktivitas Fisik dengan Screen Time sebagai ‘Hadiah’. “Kalo latihanmu rajin, nanti boleh main game extra 1 jam.” Itu seperti memberi hadiah racun. Kita memperparah masalah yang justru ingin kita cegah. Cari hadiah yang tidak memperburuk postur.
  • Tidak Mencontohkan Postur yang Baik. Orang tua sendiri duduk bungkuk seharian di depan laptop, terus menyuruh anak duduk tegak. Itu nggak akan bekerja. Anak belajar dari contoh. Perbaiki posturmu sendiri, dan ajak mereka melakukannya bersama.

Kesimpulan: Kita Tidak Bisa Memisahkan Kedua Dunia Ini, Tapi Bisa Melatih Anak untuk Bertransisi

Kita nggak bisa melarang anak dari dunia digital, dan kita juga nggak mau menghalangi mereka dari olahraga. Tantangannya adalah mengajarkan mereka untuk menjadi bilingual secara fisik. Bisa bergerak lincah di dunia digital tanpa merusak tubuh, dan bisa mentransfer tubuh yang sehat itu ke performa olahraga yang maksimal.

Tennis elbow pada anak 12 tahun adalah alarm. Alarm bahwa kita harus melihat anak secara utuh: bukan hanya sebagai atlet muda atau gamers, tetapi sebagai manusia kecil yang tubuhnya sedang dibentuk — atau dirusak — oleh gabungan gaya hidup yang belum pernah ada dalam sejarah.

Tugas kita adalah menjadi arsitek bagi fondasi fisik mereka. Memastikan bahwa postur mereka di depan screen tidak menjadi batu sandungan di lapangan. Karena masa depan mereka yang aktif dan sehat bergantung pada bagaimana mereka berdiri, duduk, dan bergerak — di kedua dunia itu.

Anda mungkin juga suka...